Rabu, 10 Juni 2009

BAB IPENDAHULUAN
Banyak sekali data-data sejarah yang menunjukkan, bahwa semenjak awal perkembangannya di Indonesia, Islam telah berhasil menanamkan akarnya yang kuat di dalam hati rakyat Indonesia. Karena itu, data-data sejarah juga memberikan pemahaman bahwa perlawanan rakyat terhadap bangsa penjajah. Baik bangsa Portugis, Belanda dan kemudian Jepang adalah perlawanan diatas ruh dan semangat Islam.

Dalam kenyataannya, setiap peristiwa perlawanan mengangkat senjata terhadap penjajah, para ulama dan santri selalu tampil menjadi pemegang kendali dan pemimpin gerakan perlawanan-perlawanan itu didasarkan sebgai perang suci membela agama yang benar, yang telah menjalar di dalam jiwa rakyat Indonesia.Kecuali itu, realitas sejarah Indonesia juga memberikan ciri bahwa Islam adalah pribumi, Islam adalah tanah air dan Islam adalah Bangsa Indonesia. Islam selalu identik dengan tanah air, persatuan dan kesatuan, serta nasionalisme. Pada gilirannya, ungkapan-ungkapan semangat Islam menjadi ungkapan yang membawa makna pergerakan rakyat, persatuan bangsa dan persatuan tanah air. Itulah sebabnya, ketika Islam tampil sebagai gerakan politik nasional tidak mengalami hambatan yang berarti. Itu dibuktikan dengan berdirinya Sarekat Islam (SI) dan Muhammadiyah.
A. Rumusan masalahAdapun yang menjadi rumusan masalah dalam penulisan makalah ini adalah:1. Bagaimanakah sejarah berdirinya Sarekat Islam dan Muhammadiyah?2. Apakah tujuan didirikannya organisasi SI dan Muhammadiyah?3. Bagaimanakah perkembangan organisasi SI dan Muhammadiyah pada masa pra kemerdekaan?
B. Tujuan penulisanAdapun yang menjadi tujuan dari penulisan makalah ini adalah:1. Untuk mengetahui bagaimana sejarah berdirinya organisasi SI dan Muhammadiyah.2. Untuk mengetahui bagaimana perkembangan organisasi SI dan Muhammadiyah.3. Untuk mengetahui bagaimana perkembangan organisasi SI dan Muhammadiyah pada masa pra kemerdekaan.

BAB IIPEMBAHASAN
1. SAREKAT ISLAMa. Sejarah berdirinya Sarekat IslamOrganisasi Sarekat Islam (SI) bermula dari Sarekat Dagang Islam (SDI) yang didirikan pada tahun 1911 di kota Solo oleh seorang saudagar batik bernama Haji Samanhudi. SDI yang berdasarkan koperasi dengan tujuan memajukan perdagangan pribumi dengan panji-panji Islam yang menaunginya.SI berbeda dengan organisasi pergerakan pendahulunya yaitu Boedi Oetomo yang merupakan perkumpulan kaum priyayi. SI sejak berdirinya diarahkan untuk memajukan Agama Islam dan untuk kepentingan rakyat. Organisasi ini juga dimaksudkan untuk lebih memperkuat golongan-golongan pedagang Indonesia terhadap pedagang-pedagang China yang saat itu memegang peranan sebagai leveransian bahan-bahan yang diperuntukan oleh perusahaan yakni kain moni putih, bahan pembuat batik dan alat-alat untuk memberi warna dalam proses pembuatan. Haji Samanhudi dan kawan-kawan merasa dipermainkan oleh leveransin-leveransin China, sehingga timbul keinginan untuk memperkuat diri dalam menghadapi leveransin China tersebut dengan mendirikan perkumpulan yang semula bersifat ekonomi dengan nama Sarekat Dagang Islam (Tirtoprodjo, 1984 : 26).Perubahan nama menjadi Sarekat Islam, berawal dari saat perkumpulan SDI tersebut menyusun statuennya. Pada saat menyusun statuten tersebut Haji Samanhudi meminta bentuan seorang terpelajar yang bekerja pada sebuah perusahaan dagang di Surabaya, yakni Oemar Said Tjokroaminoto. Selanjutnya Tjokroaminoto menyarankan agar perkumpulan tersebut tidak membatasi dirinya hanya untuk golongan pedagang saja, tetapi diperluas jangkauannya maka nama SDI diganti menjadi SI (Tirtoprodjo, 1984 : 24).

b. Tujuan organisasi SIDi dalam akta notaris tertanggal 10 september 1911 yang memuat anggaran dasar SI di tetapkan tujuan organisasi sebagai berikut:1. memajukan perdagangan2. memberi pertolongan kepada anggota-anggota yang mengalami kesusahan3. memajukan kepentingan rohani dan jasmani bagi pribumi4. memajukan kehidupan keagamaan Islam (C. S. T. Kansil, 1986 : 26).Melihat tujuan-tujuan tersebut, maka dapat diketahui bahwa SI merupakan organisasi penjelmaan kembali dari SDI, seperti tertulis dalam tujuan yang pertama.
c. Perkembangan Sarekat Islam pra kemerdekaanBerlainan dengan organisasi Boedi Oetomo sebagai pendahulunya, yang dalam perakteknya, medapatkan anggota-anggotanya dari kalangana atas saja (priyayi), SI merupakan organisasi yang menyentuh semua lapisan masyarakat pribumi seperti yang diinginkan sejak lama.Konggres SI yang pertama diselenggarakan di Surabaya pada tanggal 26 januari 1913, di pimpin oleh H. O. S. Tjokroaminoto. Dalam konggres itu ia menerangkan bahwa SI bukan partai politik, dan SI tidak beraksi melawan pemerintahan kolonial Belanda. Walaupun demikian, dengan Agama Islam sebagai landasan persatuan dan kesatuan penuh untuk mempretinggi derajat pribumi. SI tersebar keseluruh Pulau Jawa dan beberapa tempat berdiri cabang-cabang SI yang jumlah anggotanya sangat besar, seperti di Jakarta misalnya, jumlah anggotanya kurang lebih 12.ooo orang (Drs. M. A. Gani, MA).Pemerintah kolonial Belanda tidak senang melihat perkembangan SI yang begitu pesat. SI dwengan dasar keagamaannya, mempunyai potensi ayng luar biasa untuk menghimpun pengikut diantara rakyat. Meskipun tujuannya mencangkup kegiatan sosial ekonomi, menerbitkan kehidupan keagamaan Islam, mempertinggi taraf kehidupan rakyat pada umumnya,, menganjurkan kepatuhan kepada pemerintah, namun penguasa kolonial menyadari penuh kekuatan massa dari SI. Menghadapi situasi yang demikian dinamik dan mengandung unsur-unsur revolusioner itu, pemerintah menempuh jalan sangat hati-hati. Fikirim seorang penasehat kepada organisasi SI. Disamping itu Gubenur Jendral Idenburg meminta nasehat dari penasehat dari para residennya untuk menetapkan kebijaksanaan politiknya terhadap SI (Noegroho dan Marwati 1977 : 188).Hasilnya adalah permohonan pengurus besar SI untuk dapat pengakuan badan hukum ditolak oleh pemerintah kolonial Belanda. Penolakan tersebut dimuat dalam keputusan Gubernur Jendral pada tanggal 30 juni 1913. Keputusan tersebut menjelaskan bahwa yang ditolak untuk menjadi perkumpulan yang berbadan hukum adalah SI seluruhnya sebagai suatu perkumpulan yang sentralistik. Cabang-cabang SI sebagai organisasi tingkat lokal dan daerah masing-masing dapat di beri status badan hukum.Pemerintah kolonial Belanda yang sudah terikat oleh kesanggupan akan memberi dan mengakui badan hukum untuk SI lokal. Akhirnya pada tahun 1914 harus merealisasikan 56 buah cabang SI lokal sebagai organisasi yang berbadan hukum (Tirtoprodjo 1984 : 28).Perkembangan selanjutnya Central Sarekat Islam (CSI) di Surabaya pada 1915, berdasarkan sentral ini dimaksudkan untuk memajukan dan mambantu SI di dalam menjalankan dan memelihara hubungan serta kerjasama di antara mereka. Permintaan CSI untuk diakui sebagai organisasi berbadan hukum dikabulkan oleh pemerintah kolonial Belanda dengan surat keputusan tanggal 18 maret 1916. Dalam keputusan itu ditegaskan, bahwa CSI diwajibkan mengawasi tindakan dari pengurus serta anggota-anggota SI lokal, disusun pula pengurus pertama CSI, H. O. S. Tjokroaminoto sebagai ketua, Abdul Muis sebagai wakil ketua bersama Haji Gunawan. Untuk menghargai jasa pendiri organisasi SI, maka CSI mengangkat Haji Samanhudi sebagai ketua kehormatan (Sitorus 1987 : 19-20).Selanjutnya SI mengadakan longgres di bandung pada tanggal 17-24 juni 1916 yang dipimpin oleh H. O. S. Tjokroaminoto. Pengurus ini dinamakan Konggres Nasional pertama tingkat nasional SI.Pada konggres SI tahun 1917 di Jakarta muncul aliran revolusioner sosialistis yang diwakili Semaun yang pada waktu itu menjadi ketua SI lokal Semarang. Namun konggres itu memutuskan bahwa azas perjuangan SI ialah mendapatkan zeif bestuur atau pemerintah sendiri, selain ditetapkan pula azas yang kedua berupa perjuangan melawan penjajah dari kapitalisme yang jahat, sejak itupula Tjokroaminoto dan Abdul Muis mewakili SI dalam Dewan Rakyat.Sudah disebutkan diatas bahwa keanggotaan SI terus meningkat dan ini terbukti dalam konggres tahun 1918 ketiga di Surabaya. Anggotanya mencapai 450.000 yang berasal dari 87 SI lokal. Sementara itu pengaruh Semaun semakin menjalar ketubuh SI.Tahun 1919 untuk SI, adalah suatu tahun penghebatan propaganda kapital asing yang terutama dihantam. Jumlah anggota meningkat mencapai 2.000.000 orang. Keraguan datang, apakah Si masih bersikap damai? Keraguan ini disebabkan oleh keganduhan di Sulawesi Tengah setelah Abdul Muis berpropaganda kesana dan terhadapnya suatu aksi rahasia di Garut (perkara afdeling B) suatu aksi yang tentunya belum dijalankan diketahui oleh beberapa anggota CSI.Meski SI tidak revolusioner, pimpinan memandang perlu memikirkan dan mencari arah aksi baru. Konggres SI yang ke empat (26 oktober-2 november 1919 di Surabaya) terutama membicarakan soal sekitar kerja dan diputuskan juga akan mengadakan beberapa komite penyidik, untuk mempelajari soal-soal yang penting bagi pergerakan rakyat, sebuah penyidikan akan digunakan memperbaiki aksinya. Tetapi dengan ini semuanya SI hendaknya mencapai barang yang diatas kekuatannya. SI sudah melalui puncak kebesarannya, kekuasaannyapun telah turun pula karena terbawa oleh kabar-kabar tentang banyak uang iuran yang kalut dan lagi karena dilakukan oleh anggota ISDV sesudah revolusi di Rusia. Maka mereka ini menyatakan dirinya komunis. Sehingga jumlah anggota SI turun dengan cepat (pringgodigdo, 1980 : 9-10).Tahun 1920 dari beberapa kekuatan ingin membelokan SI dari relnya semula, yakni dari ajaran Islam. Misalnya Darsono, yang hendak mengubah Si menjadi Sarekat Internasional dan ada pula yang ingin mengubahnya dengan nama Sarekat Hindia. Penyelewengan ini tidak sampai terjadi, kerena kesejukan pemimpin-pemimpinnya, yang duduk dalam puncak pimpinan, nahwa azas Islam dipegang teguh untuk seterusnya.Pada tahun 1920 ini, diadakan kembali konggres nasional ke tujuh di Madiun dan SI resmi berubah menjadi partai politik dengan sekaligus merubah nama menjadi Partai Sarekat Islam (PSI).Kemudian pada tahun 1929 berubah lagui menjadi Partai Sarekat Islam Indonesia (PSII) dan pada tanggal 5 januari 1973 berubah kembali menjadi Sarekat Islam.
2. MUHAMMADIYAHa. Sejarah berdirinya MuhammadiyahBila kita tinjau dari sejarah, setelah wafatnya Rasulullah saw pada pertengahan abad ke tujuh, wafat rasulullah menimbulkan persoalan serius dikalangan para sahabat, baik yang menyangkut kelangsungan kepemimpinan Islam dan munculnya berbagai persoalan sosial sementara rasul sebagai rujukan utama penyelesaian problem tersebut telah tiada. Perkembangan pemikiran tentang Islam tersebut diatas memberikan inspirasi lahirnya Muhammadiyah di Indonesia tahun 1912 juga kahirnya Muhammadiyah ini berkaitan dengan gerakan pembaharu Islam seperti gerakan wahabi di Arab, gerakan Jamaludin Al Afgani di Asia Afrika dan Muhammad Abduh di Mesir. Dalam kondisi kehidupan umat etrsebut diatas pada tahun 1912 Kiyai Haji Ahmad Dahlan mendirikan Muhammadiyah di Kauman Yogyakarta.
b. Tujuan oraganisasi MuhammadiyahTujuan organisasi Muhammadiyah adalah untuk mengembalikan ajaran Islam sesuai dengan Al Qur’an dan As Sunnah. Dengan fokus bergerak di bidang skemasyarakatan seperti sosial, ekonomi, budaya, lembaga dakwah dan terutama dalam masalah pendidikan.
c. Perkembangan Muhammadiyah pra kemerdekaanSebagaimana telah disebutkan secara resmi berdirinya Muhammadiyah ditandai oleh penggalan surat permohonan Kiyai Haji Ahmad Dahlan kepada pemerintah Hindia Belanda tertanggal 20 desember 1912. Permohonan tersebut baru dikabulkan dua tahun kemudian yakni pada tahun 1914.Walaupun antara berdirinya Muhammadiya, sebagai wadah dan medan perjuangan dan operasionalisasi ilmunya sangat pendek sekitar sebelas tahun, akan tetapi waktu yang sangat pendek itu kaya dan padat makna. Yang sampai sekarang belum habis-habis dicari oleh generasi penerusnya.Bertepatan dengan terbitnya besluit pengesahan berdirinya Muhammadiyah pada tahun 1914 Kiyai Haji Ahmad Dahlan mendirikan perkumpulan kaum ibu yang diberi nama Sapatresna pada tahun 1920.Perkumpulan tersebut pada tahun 1922 diubah menjadi Aisyiyah yang kita kenal sekarang sebagai organisasi otonom. Perkumpulan Sapatresna untuk pertama kali dipimpin oelh istri Kiyai sendiri yakni ibu Siti Walidah.Pada tahun 1918, atas usul Raden Haji Hadjid, Muhammadiyah mendirikan organisasi kepanduan. Kepanduan tersebut merupakan kepanduan pertama di Indonesia yang dipimpin dan didirikan oleh pribumi dan umat Islam. Pandu tersebut diberi nama Hitzbul Wathan.Pada tahun yang sama Muhammadiyah mendirikan sekolah baru yang diberi nama Al Qism Al Arqa. Sua tahun kemudian (1920) sekolah ini mendirikan pondok Muhammadiyah di Kauman Yogyakarta.Dengan kegigihan dan pengorbanan Kiyai Ahmad Dahlan, satu tahun sebelum beliau wafat. Tahu n 19122, delapan jenis sekolah telah didirikan Muhammadiya dengan 73 orang guru dan 1.019 siswa.Pada tahun 1920, Muhammadiyah membentuk berbagai organisasi untuk membina berbagai amal usaha yang tumbuh dan berkembang di berbagai pelosok daerah.Selapan tahun setelah berdiri Muhammadiyah membentuk badan perwakilan yang bertugas mengkoordinasi kegiatan dan kepemimpinan beberapa daerah kerja.Pada tahun 1920 tersebut diatas, diterbitkan untuk pertama kalinya majalah resmi Muhammadiyah yang diberi nama Suara Muhammadiyah.Maksud dan tujuan penerbitan Suara Muhammadiyah adalah sebagai usaha menciptakan media pembinaan anggota dan sekaliguas merupakan forum komunikasi dan informasi antara anggota Muhammadiyah.Selanjutnya tahun 1921, satu badan lain yang disebut bagian penolong haji. Pembentukan bagian ini kelak memberi inspirasi Depag RI membentuk salah satu unit kerja yang diserahi tanggung jawab mengurus perjalanan haji di Indonesia di bawah satu Dirjen yakni Direktorat Jendral Bimas Islam dan Urusan Haji.Lalu pada tahun 1922 membentuk badan kepustakaan. Maksud didirikannya badan tersebut untuk meningkatkan pengetahuan para anggota dan umat Islam pada umumnya.Pada tahun 1926, diselenggarakan shalat ied di tanah lapang yang pertama di Indonesia, shalat ied tersebut dilakukan di alun-alun utara Yogyakarta, bersamaan dengan penyelenggaraan konggres ke-15.Pada tahun 1929 terbentuk 2 bagian lagi yaitu badan penerbit buku dan komisi sekolah, serta mendirikan rumah pertolongan di setiap daerah. Satu tahun kemudian yakni 1930 konsul dan koordinator Muhammadiyah dibentuk.Disamping itu pada tahun 1930 Muhammadiyah membentuk badan yang secara khusus mengurusi masalah penyaluran Al Qur’an dan tenaga kerja.Selanjutnya pada tahun 1932 dibentuk badan khusus yang mempunyai tugas untuk merintis penerbitan suatu harian. Apda tahun yang sama juga dibentuk pula lembaga yang mengurusi perbaikan pernikahan. Beberapa tahun kemudian yakni tahun 1936 dibentuk bedan majelis pertolongan dan kesehatan Muhammadiyah, satu tahun sesudah itu (1937), membentuk komisi mesjid, badan wakaf dan balai Muhammadiyah.Pada tahun 1939 dalam konggres ke-29 di Medan, dibentuk suatu badan baru yang disebut majelis tanwir. Dan pada tahun 1941 sidang tanwir di Surabaya menetapkan majelis ekonomi.
BAB IIIKESIMPULAN
Organisasi Sarekat Islam (SI) bermula dari Sarekat Dagang Islam (SDI) yang didirikan pada tahun 1911 di kota Solo oleh seorang saudagar batik bernama Haji Samanhudi. SDI yang berdasarkan koperasi dengan tujuan memajukan perdagangan pribumi dengan panji-panji Islam yang menaunginya.Perubahan nama menjadi Sarekat Islam, berawal dari saat perkumpulan SDI tersebut menyusun statuennya. Pada saat menyusun statuten tersebut Haji Samanhudi meminta bentuan seorang terpelajar yang bekerja pada sebuah perusahaan dagang di Surabaya, yakni Oemar Said Tjokroaminoto. Tjokroaminoto menyarankan agar perkumpulan tersebut tidak membatasi dirinya hanya untuk golongan pedagang saja, tetapi diperluas jangkauannya maka nama SDI diganti menjadi SI.Anggaran dasar SI di tetapkan tujuan organisasi sebagai berikut:5. memajukan perdagangan6. memberi pertolongan kepada anggota-anggota yang mengalami kesusahan7. memajukan kepentingan rohani dan jasmani bagi pribumi memajukan kehidupan keagamaan IslamSI merupakan organisasi yang menyentuh semua lapisan masyarakat pribumi.Perkembangan selanjutnya Central Sarekat Islam (CSI) di Surabaya pada 1915, berdasarkan sentral ini dimaksudkan untuk memajukan dan mambantu SI di dalam menjalankan dan memelihara hubungan serta kerjasama di antara mereka. Permintaan CSI untuk diakui sebagai organisasi berbadan hukum dikabulkan oleh pemerintah kolonial Belanda dengan surat keputusan tanggal 18 maret 1916.Pada tahun 1920, diadakan kembali konggres nasional ke tujuh di Madiun dan SI resmi berubah menjadi partai politik dengan sekaligus merubah nama menjadi Partai Sarekat Islam (PSI).Kemudian pada tahun 1929 berubah lagui menjadi Partai Sarekat Islam Indonesia (PSII) dan pada tanggal 5 januari 1973 berubah kembali menjadi Sarekat Islam.Perkembangan pemikiran tentang Islam memberikan inspirasi lahirnya Muhammadiyah di Indonesia tahun 1912 juga kahirnya Muhammadiyah ini berkaitan dengan gerakan pembaharu Islam seperti gerakan wahabi di Arab, gerakan Jamaludin Al Afgani di Asia Afrika dan Muhammad Abduh di Mesir. Dalam kondisi kehidupan umat etrsebut diatas pada tahun 1912 Kiyai Haji Ahmad Dahlan mendirikan Muhammadiyah di Kauman Yogyakarta.Tujuan organisasi Muhammadiyah adalah untuk mengembalikan ajaran Islam sesuai dengan Al Qur’an dan As Sunnah. Dengan fokus bergerak di bidang skemasyarakatan seperti sosial, ekonomi, budaya, lembaga dakwah dan terutama dalam masalah pendidikan.Bertepatan dengan terbitnya besluit pengesahan berdirinya Muhammadiyah pada tahun 1914 Kiyai Haji Ahmad Dahlan mendirikan perkumpulan kaum ibu yang diberi nama Sapatresna pada tahun 1920.Perkumpulan tersebut pada tahun 1922 diubah menjadi Aisyiyah yang kita kenal sekarang sebagai organisasi otonom. Perkumpulan Sapatresna untuk pertama kali dipimpin oelh istri Kiyai sendiri yakni ibu Siti Walidah.Muhammadiyah aktif dalam mendirikan berbagai badan yang tujuannya untuk kemashalatan anggotanya dan juga umat Islam secara umum.
DAFTAR PUSTAKA
Munir Mulkhan, Abdul. 1990. ¬Pemikiran Kyai Haji Ahmad Dahlan dan Muhammadiyah. Jakarta : Bumi Aksara.Gani, MA. 1984. Cita Dasar dan Pola Perjuangan Syarikat Islam. Jakarta : PT Bulan Bintang.Santosa, Kholid O. 2007. Islam Menjadi Kuda Tunggangan. Bandung : Sega Arsy.


0 komentar:

Poskan Komentar