Sabtu, 13 Juni 2009


BAB I
PENDAHULUAN
Renaisans yang secara harfiah bias berarti kelahiran kembali adalah salah satu periodisasi Eropa setelah periede klasik dan pertengahan.
Renaisans muncul sebagai akumulasi dogma-dogma gereja yang membatasi bahkan mengekang pola piker masyarakat pada saat itu dalam memehami dalam berbagai hal kehidupan dimana pada saat itu pengaruh gereja sangat besar.

Paska Perang Salib membuka mata masyarakat Eropa bahwa mereka menyadari betapa tertinggalnya mereka dibandingkan umat Islam yang pada saat itu sangat berjaya.
Merka menyadari kebodohan masyarakatnya yang terbelenggu dalam doktrin-doktrin gereja hingga sebagian masyarakat bahkan pemimpin kerajaan ada yang tidak mampumenulis dan membaca. Pengajaran tefokuskan dalam sekolah atau asrama dan itupun terbatas pada mereka yan hendak yang menjadi pendeta.
Ajaran-ajaran periode klasik Eropa, seperti Aristoteles, Plato, dan lain-lain tenggelam dalam kultur Ketuhanan, karena hanya itu yang diajarkan di sekolah asrama.
Dampak Perang Salib memang sangat besar, dimana mobilisasi besar-besaran oleh kerajaan dan pimpinan gereja memjelajahi wilayah hingga sampai di Jerusalem membuat mereka berinteraksi dengan masyarakat sekitar, yang pada akhirnya, meskipun mereka gagal menguasai Jerusalem, mereka membawa pulang kajian-kajian yang sangat berharga dari penjelajahan wilayah itu:
  1. Teknis penemuan kompas laut
  2. Kincir angin, dsb.
Mereka juga dapat mengetahui cara bertani yang maju dan mempelajari kehidupan industri Timur yang lebih berkembang. Ketika kembali ke Eropa, mereka mendirikan sebuah pasar khusus untuk barang-barang Timur, orang barat menyadari kebutuhan akan barang-barang itu dan karena kepentingan ini perdagangan antara Timur dan Barat berkembang.[1]
Setelah mengetahui latar belakang kehidupan masyarakat Eropa pada abad pertengahan menjelang renaisans, maka paparan kali ini akan memjelaskan mengenai, seberapa besar peran golongan Paura pada kemunculan renaisans serta dampak yang diakibatkan oleh kemunculan renaisans di Eropa.

BAB II
PEMBAHASAN
  1. Pengaruh Kelompok Paura (Pengusaha atau Pedagang) Terhadap Renaisans Eropa
Renaisans sebagai suatu periode sejarah yang mencapai titik puncaknya sekitar tahun 1500. Renaisans pertama kali diperkenalkan di Eropa Barat, di kawasan Italia. Mula-mula renaisans berkembang di kota Florence.
Di Italia pelindung renaisans selain para kapitalis adalah Paus Yulius II (1443-1513) dan Paus Leo X (1475-1521) yang memberi dorongan kepada para sarjana dan seniman.[2]
Di samping itu, peran golongan Paura sangat besar tepatnya sejak abad ke-XIV yaitu tahun 1300, dimana berkembangnya tradisi intelektual yang mengajarkan membaca, menulis dan berhitung untuk kepentingan ekonomi khususnya perdagangan yang terlepas dari perhatian gereja.
Seperti telah disinggung di muka, kekalahan di Perang Salib membawa dampak yang luar biasa untuk Eropa, salah satunya adalah dikenalnya rute-rute perdangan di sekitar Laut Tengah. Dan juga ilmu-ilmu navigasi yang mendukung perkembangan transportasi laut. Oleh karena itu para Paura, di Florence berhasil menjulang kekayaan dari jalur perdagangan baru hasil interaksi orang-orang Islam. Para Paura ini memiliki banyak waktu untuk meluangkannya dengan memperhatikan pengetahuan serta memikirkan soal-soal lain yang berkembang di masyarakat. Perlahan gaya hidup seperti ini meluas di kalangan masyarakat Eropa, melebar di wilayah-wilayah gereja. Bagi mereka kehidupan itu tidak hanya bersifat fatalistic dalam pemikirannya, namun juga harus memikirkan bagaimana cara menikmati anugrah yang telah Tuhan berikan untuk manusia. Bagi para Paura usaha-usaha yang dilakukan oleh manusia bukan hanya akhitarsentris meliankan juga dapat mengangkat dan memuliakan mereka yang sadar akan harga dirinya
Salah satu keluarga yang termasyur dikalangan Paura pada saat itu ialah Keluarga Medici yang memiliki masalah dengan system kepausan dan menjadi penyokong keuangan dengan usaha perdagangan di wilayah Mediterania. Hal ini membuat para intelektual dan seniman memiliki kebebasan besar karena tidak lagi perlu memikirkan masalah keuangan dan mendapatkan perlindungan. Keleluasaan ini didukung dengan tidak adanya kekuasaan dominant di Florence, dalam arti kota ini dipengaruhi secara bersama oleh bangsawan dan pedagang. Dengan kebebasan besar itu, para seniman bias berkumpul dan mendirikan gilda-gilda seni yang mengangkat nama banyak seniman terkenal. Melalui Gilda ini seniman mendelegasikan pekerjaan, kerjasama, hingga mendidik bakat baru.
Renaisans yang dimotori oleh kaum Paura ini memberikan efek yang luar biasa pada semua usaha untuk mengembangkan ilmu pengetahuan, baik dari segi pemikiran-pemikiran maupun aspek kesenian itu sendiri, dimana kontribusi para polymath (orang yang meiliki ilmu yang tinggi dalam berbagai macam hal) seperti Leonardo Da Vinci maupun Michelangelo, yang menyebabkan munculnya sebutan renaissance men.
  1. Cara Hidup pada Masa Renaisans
Renaisans yang dalam bahasa inggris disebut Renaissance atau dalam bahsa Italia , Renascimento. Secara harfiyah artinya kelahiran kembali. Namun yang dimaksud disini adalah sebuah gerakan kebudayaan antara abad ke-XIV hingga abad ke-XVII, bermula di Italia pada akhir abad pertengahan dan menyebar ke seluruh Eropa. Gerakan ini mencangkup kebangkitan pengetahuan berdasarkan sumber-sumber klasik, tumbuhnya panutan kepada Sri Paus, dan segala sesuatu hal dalam bidang ilmu pengetahuan.
Karakteristik masyarakat Eropa ketika Renaisans cenderung individualistis. Perkembangan baru di kalangan Paura ini cenderung mengubah kehidupan masyarakat Eropa..Bila pada abad pertengahan dikenal semboyan memento mori (ingatlah akan mati), maka memasuki abad ke-XIV telah diganti dengan semboyan carpe dien (pergunakan hari, nikmati hidup).
Orientasi kehidupan masyarakat, mulai diarahkan pada kejayaan abad klasik ketika peradaban Yunani dan Romawi mulai memasuki masa-maasa kejayaan dan berkembangnya sumber-sumber ilmu. Renaisans dalam pengertian hidupnya kembali peradaban Yunani dan Romawi kuno serta harus melebihi kemajuan yang pernah di alami kedua peradaban tersebut.
Masyarakat Renaisans tidak lagi menganggap dirinya hanya sebagai alat kehendak Tuhan, melainkan harus sebagai individu yang memiliki tanggung jawab yang ebrsifat individual. Renaisans mengubah sikap dan tatanan kehidupan masyarakat dan perubahan cara pandang terhadap wanita, yaitu wanita harus dihargai, berbeda halnya dengan saat abad pertengahan ketika wanita terkungkung oleh dogma-dogma gereja.
Jelas sekali terjadi perubahan yang sangat radikal dalam tatanan kehidupan masyarakat Eropa, timbulnya sifat-sifat individualistik ini jauh berbeda dengan perilaku masyarakat di abad pertengahan saat gereja menjadi orientasi tunggal denyut nadi masyarakat.
Terbukanya lahan perdagangan baru juga semakin banyak melahirkan kelompok kapitalis yang menguasai jalur perdagangan dan ini semakin dikuatkan dengan munculnya penjelajahan-penjelajahan samudera yang berpuncak pada penemuan benua Amerika oleh Columbus pada 12 oktober 1492. Karena dengan ditemukannya tanah amerika yang kaya dengan bahan tambang memicu para pedagang untuk menguasai wilayah tersebut. Dan ini berbanding lurus dengan geliat perdagangan yang semakin berkembang pada saat itu.
Selain itu kontak dengan islam, mendorong masyarakat Eropa untuk berkembang. Interakasi tersebut utamanya tumbuh di Spanyol dan Tanah Suci Jerusalem. Umat islam pada saat itu sedang mencapai puncak peradabannya. Segala hal tentang keilmuan dikumpulkan oleh para khalifah Umayyah Barat di Spanyol, sehingga Cordoba pada saat itu menyinari seluruh dunia dengan ilmu, maka mau tak mau orang-orang Eropa banyak yang menimba ilmu disana, hingga pada akhirnya masyarakat Eropa menemukan apa yang dahulu pernah hilang, yaitu literature Yunani dan Romawi yang pada saat itu giat dipelajari oleh Islam.
  1. Dampak Renaisans Terhadap Kehidupan Masyarakat Eropa
Seperti yang sudah disunggung sebelumnya, masyarakat Eropa pada masa renaisans cenderung individualistis. Terdapat banyak sekali pengghargaan-penghargaan terhadap hasil karya individu. Kemudian dengan jelas mereka memisahkan urusan dunia dengan akhirat. Karena menurut mereka, peradaban Eropa akan maju jika keduanya tidak dicampur adukan.
Dampak utama dari renaisans adalah munculnya kembali semangat ilmu pengetahuan. universitas pertama yang didirikan di Eropa adalah Universitas Oxford pada tahun 1264. Hingga tahun 1400-an di sana sudah ada sekitar 50 universitas di Eropa. Pendidikan di sana merupakan hasil simulasi dari naskah-naskah kuno yang diterjemahkan oleh orang Arab maupun orang Eropa yang belajar di wilyah Islam ke dalam bahasa latin.
Kemunculan kaum intelektual ini tentu melahirkan aliran-aliran pemikiran baru yang bersifat rasionalistik sebagai tantangan dari cara berfikir masyarakat abad pertengahan yang cenderung fatalistic. Pemikiran yang lahir itu adalah Humanisme, merupakan suatu system pemikiran, mengenai pentingnya dan dominannya orang dalam kehidupan. Para Humanis mempelajari kesusteraan klasik Yunani dan Latin, dan mereka sangat tertarik pada gaya penulisan yang elegan. Mereka juga mengumpulkan naskah-naskah lama yang kemudian diterbitkan.[3]
Beberapa tokoh Humanios yang muncul pada saat itu, antara lain Francesco Petrarca atau dikenal dengan Petrach (1304-1374). Ia mendapatkan pendidikan di Avignon. Lalu masuk ordo gereja untuk mempelajari studi sastera Yunani dan Romawi Kuno. Karya-karyanya terkumpul dalam Canzoniere yang diterbitkan pada tahu1470.
Kemudian Desiderius Erasmus (1446-1536) dengan karyanya Praise of Folly pada tahun 1511, yang isinya sebagai suatu sindiran terhadap peran wanita yang pada saat itu masih terhalang dogma-dogma gereja.
Hingga tahun 1500-an, Negara-negara Eropa mulai memimpin dunia dalam banyak teknologi penting. Sumber daya yang tak terbatas, hasil dari penjelejahan dunia, rute perdagangan baru yang berhasil di cari, lalu reformasi Protestan yang dimotori oleh Calvin dan Luther, serta persaingan politik di Eropa itu sendiri akhirnya membuat Eropa menjadi wilayah yang dominan hingga abad ini.
BAB III
KESIMPULAN
Renaisans yang muncul di Eropa pada sekitar abad ke-XIV dengan di pelopori oleh golongan Paura sebagai tantangan atas dominasi gereja dengan dogma-dogmanya yang kadang kala menyesatkan, berhasil membawa Eropa kepada babak baru dalam sejarah peradaban dunia.
Namun demikian, tidak berarti semua gereja mendukung dogma-dogmanya, sebab ada beberapa yang menentang dominasi gereja justru dari pimpinan gereja itu sendiri seperti Paus Julius II dan Paus Leo X yang menjadi pelindung gerakan renaisans di Italia.
Hingga pada akhirnya dengan diwarnai berbagai konflik, dan sebenarnya renaisans itu sendiri cenderung pada perubahan kebudayaan, maka Eropa mampu menjadi tolak ukur peradaban dunia sampai dengan sekarang.
DAFTAR PUSTAKA
Marwati Djoened Poesponegoro. 1988. Tokoh dan Peristiwa Dalam Sejarah Eropa Awal Masehi-1815. Jakarta: UI Press.
Hay, Denys. 1986. The Significance of Renaissance Europe: The Age of Renaissance. London: Thames and Hudson Ltd.
Dedi Supriyadi M.Ag. 2008. Sejarah Peradaban Islam. Bandung: Pustaka Setia.
Ajid Thohir. 2004. Perkembangan Peradaban Islam di Kawasan Dunia Islam Melacak Akar-akar Sejarah, Sosial, Politik, dan Budaya Umat Islam. Jakrta: PT:. Raja Grafindo Persada.
Moh. Nurhakim. 2004. Sejarah dan Peradaban Islam. Malang: UMM Press.
Artikel perkuliahan Sejarah Dunia II Bagian Renaisans


[1] Dedi Supriyadi M.Ag. Sejarah Peradaban Islam. Bandung: Pustaka Setia. 2008. hlm. 175.
[2] Marwati Djoened Poesponegoro. Tokoh dan Peristiwa dalam Sejarah Eropa Awal Masehi-1815. Jakarta: UI Press.1988. hlm.271.
[3] Marwati Djoened Poesponegoro, op.cit. hlm 149

0 komentar:

Poskan Komentar