Rabu, 10 Juni 2009

Dalam penelitian sosiologi biasanya digunakan beberapa metode penelitian , diantaranya deskriptif,dan komparatif..Metode deskriptif adalah suatu metode penelitian tentang dunia empiris yang terjadi pada masa sekarang. Tujuannya untuk membuat deskripsi, gambaran atau lukisan secara sistematis, faktual dan akurat mengenai fakta-fakta, sifat-sifat dan hubungan antar fenomena yang diselidiki.Metode komparatif adalah sejenis metode deskriptif yang ingin mencari jawaban secara mendasar tentang sebab akibat, dengan menganalisa faktor-faktor suatu fenomena. Jangkauan waktunya adalah masa sekarang. Bila jangkauan waktunya adalah masa lampau maka metode penelitian itu disebut metode sejarah.

a. analisis cross culturalAnalisis ini merupakan pendekatan dari segi kebudayaan. Artinya agama dipandang sebagai bagian dari kebudayaan, baik wujud idea maupun gagasan dianggap sebagai sistem norma dan nilai yang dimiliki oleh anggota masyarakat, yang mengikat seluruh anggota masyarakat. Sistem budaya agama itu memberikan pola kepada seluruh tingkah laku anggota masyarakat, dan melahirkan hasil karya keagamaan yang berupa karya fisik, dari bangunan tempat ibadah sampai alat upacara yang sangat sederhana.Max Muller melakukan pendekatan jenis ini dengan metode filologi. Ia meneliti bahasa yang digunakan oleh pemeluk agama. Menurutnya asal agama itu dari mitos-mitos tentang fenomena alam, dan munculnya agama karena kesalahan mengartikan lafal bahsa yang dipakai untuk mengidentifikasikan fenomena alam.Selain Max Muller juaga ada EB Taylor yang mealukan analisis jenis ini. Yaitu pada bangsa-bangsa primitif. Dalam penelitiannya, ternyata suku-suku tersebut mempercayai roh animisme. Maka tahap awal berdasarkan EB Taylor adalah kepercayaan animisme, kepercayaan bahwa alam semesta ioni mempunyai jiwa. Kepercayaan ini fundamental dan universal artinya berada di semua bangsa dan masyarakat. Animisme berkembang menjadi pemujaan terhadap dewa-dewa (politeisme). Kemudian berkembang kepada pemujaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa (monoteisme).
b. analisis historisMerupakan pendekatan kesejarahan. Pendekatan ini menganut bahwa suatu fenomena religius bisa dipahamai dengan mencoba menganalisis perkembangan segi historisnya. Dengan memperhatikan perkembangan prinsip-prinsip umum dari tingkah laku religius khusus dan tertentu, muncullah pola-pola kejadian yang menghasilkan prinsip-prinsip umum dari keberagamaan tadi.Dengan metode sejarah dapat diteliti benda-benda peninggalan agama tersebut. Seorang peneliti harus memakai kacamata orang-orang beragama, karena dengan bahasa itulah teks dan artefak dapat dipahami atrinya sehingga dicapai pengertian yang berkaitan dengan asal usul, pertumbuhan, perkembangan, dan penyebaran agama-agama.Schmidt, seorang sarjana sejarah mengadakan penelitian agama dnganpendekatan kultur historis. Dia menjelaskan bahwa masyarakat paling primitif di Australia terdapat suatu kepercayaan akan adanya pencipta yang kekal, yaitu Tuhan Tertinggi Yang Mahabaik dan Mahatahu, Tuhan yang berdiam di langit. Ia mengambil kesimpulan bahwa dalam perkembangannya agama asli tersebut mengalami degenaerasi (pemburukan) pada kepercayaan momoteisme asli sehingga keberadaannya terus merosot dan hampir hilang.
c. analisis partisipanMerupakan studi ilmiah mengenai agama yang ditinjau dari sudut pandang partisipan. Wilayah kajiannya adalah pengalaman religius suatu kelompok agama dalam individu atau sosial. Kajian mendalam terhadap motivasi beragama dan latar belakang keberagamaan manusia secara individual maupun komunal. Agama terlefleksikan dalam hati manusia dengan tingkah laku keberagamaan sebagai aplikasinya setra tingkah laku yang bukan keagamaan. Freud seorang ahli psikologi, mengajuakan teori asal usul agama dalam sudut pandang pendekatan partisipan. Menurutnyampermulaan agama, etika masyarakat, dan seni dapat dijumpai dalam kompleks Odipus. Agama berasal dari cerita yunani kuno tetnang pembunuhan bapak pertama, suatu pembunuhan primodial yang akhirnya secara ritual dilakukan berulang-ulang dalam korban totemis.
d. research survey dan analisis isiTujuan dari metode ini adalah untuk menghimpun serta saling mendorong dan memperkaya pengalaman yang mempelajari agama secara ilmiah, menggalakkan penyelidikan agama secara ilmiah, mengajukan proyek-proyek research dan untuk mendorong dan membantu pencarian bersama. Titik pusatnya adalah pengumpulan fakta-fakta.
e. metode eksperimentasiMetode eksperimentasi adalah suatu metode pengujian terhadap suatu teori yang telah mapan dengan suatu perlakuan baru. Beberapa kali pengujian dapat memperkuat atau melemahkan teori tersebut. Tetapi apabila teori itu ternyata dapat dibuktikan oleh suatu eksperimen baru, maka teori tersebut lebih menguat dan mungkin akan mencapai tarap hukum teori.
Sumber rujukan:Dr. H. Dadang Kahmad, M. Si. 2002. Sosiologi Agama. Bandung; PT Remaja Rosdakarya.Nottingham, K. Elizabeth. 2002. Agama dan Masyarakat Suatu Pengantar Sosiologi Agama. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada.Syamsudin Abdullah. 1997. agama dan masyarakat Pendekatan Sosiologi Agama. Jakarta: Logos Wacana Ilmu.

0 komentar:

Poskan Komentar