Kamis, 29 September 2011

Islam, dalam beberapa keterangan para ahli, seperti HAMKA datang mula-mula pada abad ke 7 Masehi atau masih dalam suasana nafas khulafaur rasyidin, kemudian diuraikan bahwa mulai berkembang di Nusantara sejak sekitar 1200 seperti yang di kemukakan misalnya oleh Ricklefs ditandai dengan berdirinya Kesultanan Samudera Pasai di bagian barat Sumatera. Di susul kemudian Kesultanan Malaka, Aceh dan lain sebagainya. kemudian di Jawa muncul Demak, Cirebon, Banten dan Mataram serta di wilayah Sulawesi (Indonesia Timur) muncul Gowa Talo, Ternate serta tidore.

Satu hal yang menarik dalam proses Islamisasi di Indonesia adalah adanya perbedaan cara masyarakat nusantara dalam menerima Islam pada waktu itu. Sehingga kita kenal dewasa ini dengan dinamakan proses Islamisasi Jawa, proses Islamisasi Sumatera dan proses Islamisasi Sulawesi.


Dalam Islamisasi Jawa secara sederhana dapat dikatakan bahwa yang menjadi pemicu adalah alat kekuasaan yaitu kerajaan yang tidak ingin rakyatnya melepaskan diri dari kekuasaan raja maka sang penguasa kemudian masuk Islam untuk menarik simpati rakyatnya yang sudah mengenal Islam terlebih dahulu.

Berbeda dengan proses Islamiasi di Sulawesi, rakyat di sana memeluk Islam setelah rajanya terlebih dahulu menjadi seorang muslim. Artinya rakyat di sana sangat bergantung kepada agama yang dianut rajanya. Demikian pula segala kebijakan, petuah, perintah dan lain sebagainya dari sang penguasa akan di taati oleh rakyat-rakyatnya.

Tentu tidak lengkap bila kita tidak menengok bagaimana proses Islamisasi di wilayah Sumatera yang menjadi wilayah pertama di nusantara menjalin interaksi dengan Islam. Di sini, secara sederhana bisa dikatakan berawal dari sebuah komunitas masyarakat yang pada akhirnya membuka sebuah wilayah dan mengangkat seorang tokoh berpengaruh untuk kemudian manjadi pemimpin komunitas masyarakat tersebut.

1 komentar: